Showing posts with label Romance. Show all posts
Showing posts with label Romance. Show all posts

Novel: Travelers' Tale

Travelers' Tale
Belok Kanan: Barcelona!
oleh: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita

Sinopsis:

Keempat orang bersahabat dari kecil. Di masa SMA mereka mulai saling jatuh cinta tanpa pernah tersampaikan. Retno dua kali menolak Francis padahal sebenarnya Farah memendam cinta pada pria itu. Menambah masalah jadi pelik, Jusuf juga sebenarnya menyayangi Farah.

Kemudian sampailah undangan dari Francis kepada ketiga sahabatnya yang memberitahukan bahwa dia akan melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis Catalonian, yang diselenggarakan di Barcelona. Keempatnya pun pergi menuju Barcelona dari penjuru yang berbeda dan dengan budget terbatas. Mereka membawa misi masing-masing: mencari jawaban untuk pertanyaan yang tak pernah tersampaikan selama ini.



Read More......

Novel: Negeri Van Oranje

Negeri Van Oranje
oleh: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana

Sinopsis:

Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?

Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di Belanda demi meraih gelar S2. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak-balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan dan berbagi survival tip hidup di Belanda. Mereka pun bergelut dengan selintas pertanyaan di benak mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri: untuk apa pulang ke Indonesia? Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

Novel ini ditulis dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca. Kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussels hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker.



Read More......

TeenLit: Imaji Terindah

Imaji Terindah
oleh: Sitta Karina

Sinopsis:

Chris Hanafiah -atau lebih dikenal sebagai Prince Christopher di sekolahnya- tidak pernah benar-benar tertarik dengan cewek sampai ia bertemu siswi pindahan dari Tokyo, Aki.

Aki kembali ke tanah air bukan tanpa alasan, dan ia hanya ingin menjalani hidup normal sebagai remaja. Tapi mungkinkah ‘hidup normal ala remaja' berarti mengesampingkan fall-in-love stuff, apalagi kalau dirinya malah berhadapan dengan seorang Hanafiah muda yang memiliki moto ‘I get what I see' ?

Kini mereka bertemu, dan konflik batin di masing-masing anak muda ini kian bergolak.
Saat Chris jatuh cinta setengah mati kepadanya, Aki malah terus menolaknya... dengan sengaja.

Namun, apapun hidden agenda yang Aki miliki, Chris bertekad akan mengungkapnya...



Read More......

Cerpen: Saat Ultah

Saat Ultah
oleh: Putra Gara


Sekaranglah kesempatannya, ya sekaranglah kesempatannya, benak saya membatin, menerobos keraguan yang sudah cukup lama saya pendam.
Maka, segera saya bungkus "Jalan Menuju Cinta"-nya Jalaludin Rumi, dan "Surat-surat Cinta"-nya Khalil Gibran, dengan kertas kado berwarna merah muda.
Ya, sekaranglah kesempatannya, sekali lagi, benak saya membatin, memantapkan hati saya.
***

"Retnooo...! Retnooo...!" panggil Ratih setengah teriak. Gadis itu tersenyum ke arah saya. Senyumnya manis, tidak beda dengan senyum Retno, adiknya.
Saya juga tersenyum.
"Masuk aja, Van," katanya. "Sebentar ya saya panggil Retno-nya."
Saya mengangguk sambil tersenyum lagi. Sepatu kets yang saya kenakan saya buka sebelum melangkah ke dalam rumah. Setelah sampai di dalam, saya menjatuhkan pantat di atas sofa.
Sejak dari rumah, jantung saya yang berdetaknya kelewat rajin semakin menjadi-jadi saja. Bahkan waktu saya mengendarai motor dari rumah saya ke rumah Retno ini pun, perasaan suara detak jantung saya lebih cepat ketimbang lari sepeda motor itu. Ada hembusan napas berat dari hidung saya. Tanpa sadar, saya remas kado di tangan. Gelisah.
Beberapa menit kemudian, sosok dengan gaun coklat muda yang pada lengan tangannya ada dua garis hitam muncul dari dalam kamar.


***
Ada senyum yang mengembang.
Ada pula senyum balasan.
Untuk beberapa detik, di antara senyuman, mata saya beradu pandang. Tapi kemudian, sosok bergaun coklat yang punya rambut panjang itu tertunduk malu. Tersipu.
"Hai...." sapa saya, pelan.
Tidak ada sahutan, cuma ada senyum yang kembali mengembang. Perlahan, masih dengan tersipu malu, sosok dengan gaun coklat berambut panjang, gadis cantik nan manis bernama Retno Ayu Larasati itu duduk di sofa.
"Main, Van," suara Retno merdu terdengar.
"He-eh," saya menjawab dibarengi anggukan.
Kami saling senyum lagi.
"Kenapa tadi siang nggak masuk sekolah?" tanya saya, hati-hati.
"Sengaja," jawab Retno, sudah tidak tersipu lagi.
"Bukankah... bukankah... hari ini kamu ulangtahun?"
Retno tersenyum. "Iya," jawabnya, sambil memandang saya sebentar. "Setiap ulangtahun, dari mulai kelas dua SMP, saya sengaja mengurung diri di rumah, di dalam kamar," kata Retno. "Saya kepingin ngoreksi diri saya saat hari kelahiran saya. Makanya saya nggak ke mana-mana."
Hening....
"Sekarang saya sudah kelas dua SMA," ujarnya, cuma sejenak. "Saya kepingin belajar dewasa. Lewat perenungan, di hari kelahiran saya," tambahnya lagi.
Hening lagi.
Saya memandang Retno.
Retno tertunduk.
"Retno...."
"Hmmm...."
"Tadi, saat kamu menyudahi kata-kata kamu itu, kamu pun sudah dewasa, No," kata saya, pelan. "Selamat, ya."
Retno mengangguk dengan senyuman.
"Nggak ada yang bisa saya berikan selain ini," saya menyodorkan kado di tangan saya. "Cuma buku bacaan."
Retno menerima kado pemberikan saya. "Makasih ya, Van," katanya, sambil ingin membuka bungkus kado itu.
"Eh, bukanya nanti saja, kalau saya sudah pulang. Jangan sekarang. Sebentar saya malu."
Retno kembali tersenyum. Saya juga.
Lalu diam.
Hening pun ada lagi.
Agak lama, hening itu menguasai.
"Silakan diminum airnya, Van." Tiba-tiba Ratih sudah berada di antara kami, sambil meletakkan air putih di atas meja.
"Waduh, saya sampai lupa ngambilin air minum," Retno tersenyum.
"Nggak apa-apa. Makasih ya, Tih."
Ratih juga tersenyum. Lalu pergi kembali membawa baki.
Saya meminum air yang dibawa Ratih, sedikit. Lalu diam lagi.
Hening lagi.
"Jangan pandang saya seperti itu, Van!" Retno tersipu, ketika mata saya menjajahnya.
"Kenapa?"
"Malu." Retno tersipu lagi.
Saya tersenyum. "Saya ingin melihat hati kamu. Sebenarnya sih, sudah lamaaa banget," kata saya, sambil menggoda.
"Lho, mana bisa," Retno merunduk. "Hati saya ada di dalam, kok, di sini," ia meraba dadanya dengan jari manisnya.
Saya tersenyum lagi. "Hati kamu sebenarnya dekat banget dengan saya, No. Cuma... saya takut mengambilnya, takut kamu marah."
Kali ini Retno yang tersenyum. "Kenapa?" tanyanya sembari mempermainkan ujung rambut panjangnya. "Apakah selama ini saya pernah marah sama kamu?"
"Nggak, kamu nggak pernah marah sama saya. Kamu baik, kok!"
Kami berdua saling senyum lagi.
Lalu hening lagi.
"Retno...." Kalimat saya digantungkan. "Kamu nggak marah kalau saya bicara terus terang sama kamu?"
"Lho, tadi kan sudah saya bilang, apakah saya pernah marah sama kamu? Dan dari tadi juga, kita sudah saling bicara, kok."
"Tapi yang ini lain, No." Deg, deg, deg! Tiba-tiba detak jantung saya kelewat rajin berdetak lagi, setelah beberapa menit yang lalu sudah kembali normal.
"Lain apanya? Coba deh, bicara aja."
"Benar, nih? Kamu nggak marah?"
Retno tersenyum.
Detakan jantung saya seperti laju kereta, cepaaaat banget.
"Saya... saya... saya suka kamu, No!"
Plep! Langsung wajah Retno merona merah. Dia merunduk. Tidak tersenyum dan tidak tersipu lagi.
Dia diam.
Dan terlambat sudah bagi saya untuk menyesal.
Apalagi menarik kembali kalimat yang sudah terlontar.
Lama juga kami saling diam.
Retno tetap merunduk.
Dan saya tetap menatap lekat ke gadis yang duduk di depan saya, yang dipangkuannya ada kado berwarna merah muda.
"Maafkan saya, Retno, kalau saya bersalah ngucapin kata-kata itu." Saya menarik napas panjang.
Sedikit, Retno mengangkat kepala. "Nggak, kamu nggak salah, kok. Itu memang hak kamu kalau kamu kepingin ngucapin kata-kata itu."
"Jadi kamu nggak marah?"
Retno menggeleng.
"Kamu... kamu juga suka saya, No?"
Retno tidak menjawab. Dia merunduk dalam. Seperti ada ganjalan di napas yang ia keluarkan.
Hening lagi.
Saya menunggu saat-saat selanjutnya.
Retno mengangkat kepala. "Kamu benar-benar suka sama saya, Van?" tanyanya, serius.
Saya tersenyum dan mengangguk pasti.
Retno merunduk lagi. "Kalau kamu benar-benar suka sama saya, saya pinta sama kamu, lupakanlah saya," ucapan Retno begitu mengagetkan saya.
"Kalau kamu nggak cuma sekadar bilang suka sama saya di mulut kamu, penuhi permintaan saya itu, Van. Buktikan kalau kamu memang benar-benar suka sama saya...."
"Retno, saya... saya nggak mengerti apa yang kamu bicarakan, No?"
"Berusahalah untuk mengerti walau kamu nggak mengerti, Van," kata Retno, matanya berkaca-kaca. "Karena... karena saya hidup nggak akan lama lagi! Saya sakit, Van. Saya nggak dapat menahan nyeri sakit kanker saya." Airmata Retno mengkristal.
Butiran itu jatuh di pipinya yang halus.
Ada isak yang tertahan.
Isak itu terdengar begitu giris menyayat kalbu.
"Retno...." Suara saya bergetar. "Kamu nggak pernah bilang sebelumnya, No!"
Retno merunduk. Gadis di hadapan saya ini tiba-tiba jadi begitu rapuh.
"Saya nggak ingin orang lain tahu selain keluarga saya, Van," kata Retno, setelah diam beberapa detik. Tangannya sibuk mengusap airmata yang menetes. "Penyakit itu sudah saya rasakan bertahun-tahun. Sekarang saya memberitahukannya ke kamu. Saya harap kamu mau mengerti tentang saya. Saya nggak ingin kematian saya meninggalkan beban di hati seseorang. Kalau kamu benar-benar menyukai saya, lupakan saya, Van. Anggap saya nggak pernah ada."
"Tapi, No... kematian hanya milik Tuhan. Kamu jangan sampai larut dengan penderitaan seperti ini. Saya... saya menyayangi kamu apa adanya, No."
Retno terdiam.
Airmatanya belum berhenti mengalir.
Saya jadi ikut larut dalam kesedihannya.
Ada airmata juga, di mata saya.
"Retno...."

***
Hening dan sepi sekali hati saya. Saya tak kuat dan tak tahan melihat gadis itu  melewati hari-harinya dengan kesedihan dan penderitaan akan penyakitnya. Ingin  rasanya saya selalu bersamanya, melewati hari-harinya yang katanya tidak lama lagi  itu—seperti yang ia katakan dua hari yang lalu saat hari ulangtahunnya. Tapi  kecelakaan sepeda motor saat saya pulang dari rumahnya, menghempaskan saya ke  sebuah alam yang begitu jauh dari alam gadis itu.
Retno di alam fana, sedangkan saya sudah di alam nan tak tersentuh.
Ah, maut, memang tidak pernah ada yang menduganya.
Gadis itu menangis. Entah apa yang disedihkannya. Dalam parau suaranya, saya mendengar nama saya disebut. Meskipun pelan, tapi saya amat jelas mendengarnya. Sudah dua hari ini, dalam kesendiriannya, nama saya selalu disebut-sebut. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Karena alam saya dengan alam Retno sudah berbeda.

Read More......

Cerpen: Masih Ada Hari Esok

Masih Ada Hari Esok
oleh: Karen Angela


Butuh satu jam untuk mengenal seseorang, satu hari untuk jatuh cinta, namun untuk melupakannya bisa jadi butuh seumur hidup.
Pagi belum lagi beranjak siang, namun langit di atas kota Jakarta kelabu tua. Mendung menyelimutinya. Hujan turun rintik-rintik. Air yang jatuh dari atas langit bagai jutaan jarum lembut. Membasahi genting, dedaunan, lalu mengalir sepanjang jalan menuju selokan.
Hari ini adalah hari keempat belas Astri berada di rumah sakit. Setelah dioperasi pada hari pertama dan beristirahat total selama hampir dua minggu, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Luka-luka di kakinya sudah mengering. Semua barang-barang Astri juga sudah dimasukkan ke mobil.
Gadis itu mencoba berdiri meski dengan bantuan tongkat.
"Pagi, Dok!" sapanya begitu melihat dokter yang ikut membantu perawatannya sedang berbicara dengan seorang suster di pintu kamar.
Dokter muda itu memandangnya sejenak, lalu membalas sapaannya.
"Sudah mau pulang?"
"Ya, Dokter. Sekalian saya mau pamit."
"Baiklah, Astri. Satu saja pesan saya, hidup harus berjalan terus. Kamu tetap kuat dan tabah ya? Selain berusaha menjaga kondisi badan, mulailah berlatih berjalan setahap demi setahap."
Astri mengangguk. "Terima kasih atas bantuannya, Dokter."
Lalu dibantu papa dan mamanya, gadis itu masuk ke dalam mobil. Semenit kemudian, mobil sedan yang membawanya telah melaju di jalan.
Astri beralih ke tepi jendela. Hujan masih menyisakan rintiknya. Dia teringat kembali tentang Kevin, cowok yang sangat dicintainya, yang dulu pernah menemaninya merenda hari. Sampai detik ini, Astri belum mampu melupakannya. Padahal cukup hitungan waktu untuk mengenang kehangatan dan cinta Kevin padanya. Kecelakaan mobil telah membawa cowok itu tidur lelap ditemani kedamaian. Sementara Astri terpuruk dalam kesendiriannya kini.
Memang, tak seorang pun dapat menduga kapan musibah itu datang. Semuanya terjadi begitu cepat. Astri sama sekali tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhir dia bersama Kevin. Cowok itu mengajaknya dinner bareng seminggu menjelang keberangkatannya untuk melanjutkan sekolah ke negeri Paman Sam.
"Jika rentang waktu setahun ada 365 hari, maka berapa kali matahari terbenam yang akan kita lewatkan hingga kita bertemu lagi?"
"Aku nggak tahu, Vin." Astri menatap kosong. Dia bahkan belum menyentuh potongan steak -nya yang terhidang di meja.
"Suatu hari nanti, aku ingin kita bisa menikmati matahari terbit bersama-sama. Begitu terus setiap hari." Kevin menggenggam jemari Astri lembut. Mencoba memberi keyakinan pada gadis itu.
Tapi nyatanya, apa yang terjadi sungguh ironis.
Astri masih ingat betul, dalam perjalanan pulang Kevin membanting setir mobilnya ke kanan guna menghindari tabrakan dengan mobil depan yang ngerem mendadak. Namun bukannya terhindar dari maut, tiba-tiba malah muncul mobil dari arah sebaliknya menabrak mereka.
Mobil Kevin yang ringsek berat menjadi saksi bisu betapa kecelakaan itu demikian parah dan tak menyisakan ampun. Saat keduanya tak sadarkan diri di rumah sakit, cowok itu duluan menghembuskan napas terakhirnya. Astri beruntung masih selamat. Dia hanya menderita patah kaki ringan dan beberapa luka gores.


***

Satu tahun lebih berlalu....
Tak mudah memang bagi Astri menjalani hari dengan trauma yang masih membekas. Tak seorang pun juga begitu ambil pusing dengan sikapnya yang tertutup dan cenderung pendiam. Ya, kecuali Andhika.
Kring! Begitu bel kampus berbunyi, Astri bergegas meninggalkan ruangan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang karena begitu banyak yang harus dikerjakannya di rumah siang ini.
"Astri, tunggu! Aku mau ngomong."
Astri memperlambat langkahnya sambil menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak Dhika berlari-lari kecil ke arahnya. Sedikit terengah begitu berhasil menjejeri langkahnya.
"Aku nggak punya banyak waktu," Astri lantas memotong seraya membalikkan tubuhnya.
"Please, aku cuma pengen nanya. Boleh nggak aku ke rumah kamu malam minggu ini?" imbuh Dhika sambil tersenyum kikuk.
"Kenapa? Beberapa jam aja nggak lihat aku bikin kangen, ya?" tatapan mata Astri melunak.
"Jadi boleh ya aku main ke rumahmu?"
"Siapa yang bilang boleh?" Astri mendelik. "Aku sibuk!"
"Sibuk? Emangnya mulai punya bisnis apaan?"
Astri tertawa kecil. Andhika yang baik selalu mengingatkannya pada Kevin. Tubuhnya yang tinggi menjulang, kulitnya yang putih serta senyum baby face-nya seolah menjelma pada diri Dhika. Hanya saja....
Astri menarik napas dalam-dalam. "Pokoknya nggak boleh, kecuali...."
"Kecuali apa?"
"Kecuali kamu bisa mempertemukan aku dengan Kevin," tantang gadis itu.
Dhika terperangah. Permintaan itu terasa janggal. Gimana mungkin mempertemukan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah nggak ada di dunia ini? Astri hanya mengada-ada.
Dan itu menjadi beban batinnya. Ternyata, menyadarkan seseorang yang terbelenggu cinta tak semudah yang dibayangkannya. Sayang dia keburu terbius oleh gadis itu. Sejak perkenalan pertama beberapa tahun silam, sebelum Astri akhirnya menjadi milik Kevin. Kalaupun saat itu dia memutuskan untuk mundur, itu semata karena Dhika yakin Kevin dapat membahagiakan gadis yang sedikit manja itu.
Perkiraannya tidak meleset. Semuanya berlangsung baik-baik saja. Sampai tiba-tiba kabar buruk itu diterima: Kevin meninggal akibat kecelakaan mobil.


***

Astri menggenggam sebuah boneka beruang kecil di tangannya. Hadiah dari Kevin di hari jadi mereka pacaran.
"Aku bakal ngasih kamu boneka beruang ini di setiap tahun hari jadi kita. Sampe meja belajar kamu penuh! Sebab aku ingin kita selalu bersama," kata Kevin suatu saat.
Astri mengenang hal itu dengan pahit. Hari ini seharusnya hari jadi mereka yang kedua, kalo Kevin masih hidup tentunya. Betapa Astri kangen dengan senyum, tawa, perhatian, bahkan omelan cowok itu saat dirinya lupa sarapan pagi. Sudah setahun pula Astri terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Kevin. Andai saat itu dia nggak mengganggu konsentrasi Kevin menyetir dengan mengajaknya ngobrol. Andai dinner itu tak pernah ada. Ah, andai....
Sebuah ketukan di pintu membangunkan lamunannya.
"Astri, ada temanmu yang datang. Kalo nggak salah namanya Dhika."
"Eh... iya, Ma." Astri buru-buru menyusut airmatanya.
Ngapain lagi Dhika kemari? Bukannya dia sudah bilang nggak usah mampir?
Di ruang tamu, Astri melihat cowok itu sedang duduk terpekur menatap lantai. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat dirinya.
"Hai!" sapa Dhika spontan. Astri Cuma bisa diam mematung di ujung meja. Dhika kelihatan begitu lembut malam ini, dan dia begitu tampan dengan kemeja putihnya itu.
"Malam minggu nggak keluar?" tanya cowok itu lagi.
Astri menggeleng. "Mana ada yang pengen ngajak cewek kuper lagi berantakan kayak aku kencan di malam Minggu."
"Kamu serius? Aku mau!"
Astri tersenyum simpul. Cowok di hadapannya ini, tak putus-putusnya menghibur dirinya sejak kepergian Kevin. Astri tidak buta. Dia sadar perhatian Dhika selama ini.
"Tapi kamu belum mengabulkan permintaanku. Kamu belum mempertemukan aku dengan Kevin," Astri mengingatkan.
"Astri... kamu tahu sendiri kan hal itu nggak mungkin," sahut Dhika.
"Terserah."
"Sampe kapan kamu mau terus mengurung diri, As? Aku yakin Kevin juga nggak suka ngeliat kamu kayak gini," suara Dhika terdengar lembut tapi tegas.
"Kalo nggak suka, kamu boleh kok nggak peduli," jawab Astri dingin.
"Aku peduli, karena aku sayang sama kamu!" jawab Dhika gemas.
"Maafin aku, Dhika. Tapi Kevin tetap hidup di hatiku," jawab Astri setengah terbata.  Kevin, kamu di mana? Berilah aku suatu pertanda kalo kamu juga nggak pernah  ngelupain aku, bisiknya.
"Jangan berburuk sangka dulu. Aku nggak pernah minta kamu ngelupain Kevin, As.  Aku cuma pengen kamu membuka diri bagi orang-orang di sekitarmu. Kan kamu  sendiri yang bilang, kita harus menghargai waktu yang ada bersama orang-orang yang  kita sayangi. Dan aku menghargai waktu yang aku punya bersama kamu!"
Astri terpana mendengar ucapan Dhika. Ada rasa haru menyeruak di hatinya.
"Aku suka sama kamu sejak dulu, As. Sejak kita pertama kali kenalan. Aku pengen  kamu kembali ceria kayak dulu lagi," pinta Dhika sambil tersenyum manis.
"Thanks, Dhika. Tapi aku...."
Dhika mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya sejak tadi. Astaga! Sebuah boneka beruang kecil. Antara percaya dan tidak percaya, Astri menatap takjub saat tangan Dhika terulur padanya.
"Tadi sebelum ke sini, aku melihat boneka ini. Lalu aku berpikir untuk membelikannya untukmu karena setahuku kamu suka pernak-pernik beruang. Sebuah awal yang bagus bukan? Jadi di kamarmu nggak melulu koleksi barang dari Kevin." Lagi-lagi senyum tulus mengembang di wajah cowok itu.
Astri menerimanya dengan hati berdebar.


***

Angin malam menerpa ketika Astri membuka jendela kamarnya. Poninya tersibak. Antara suka dan lara bergayut di hatinya. Astri memandang boneka beruang kecil pemberian Dhika di tangannya, lalu menatap ke atas, menembus kelamnya langit di malam hari.
Astri tersenyum tipis. Dipejamkannya mata. Alangkah terasa kehadiran Kevin di sisinya. Entah kenapa kedamaian tiba-tiba menyelimutinya.
"Kevin," gumamnya lirih, "Aku nggak akan pernah melupakanmu meskipun kini sudah menerima uluran tangan Dhika untuk mengisi kekosongan hati ini, yang akan menemaniku melangkah di lembaran baru. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan di tempatmu yang sekarang."
Angin kembali berdesir. Astri membiarkan jendelanya tetap terbuka.
Sementara dari atas sana, betapa seseorang yang berpakaian seputih kapas itu tersenyum dan tampak melambai hangat kepadanya dari atas sana. Kevin....

Read More......

Cerpen: Rectoverso

Rectoverso
oleh: Dee

Sinopsis:

Dewi Lestari, yang bernama pena Dee, kali ini hadir dengan mahakarya unik dan pertama di Indonesia "Rectoverso" merupakan hibrida dari fiksi dan musik yang bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri tetapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan. Inilah cermin dari dua dunia Dewi Lestari yang ia ekspresikan dalam nafas kreativitas tunggal bertajuk "Rectoverso".

Lalu apa arti dari Rectoverso yang menjadi judul album sekaligus buku ini? Dee menjelaskan kata tersebut diambil dari bahasa latin yang artinya dua figur yang saling bercermin. Dengan cara bertutur yang puitis namun sederhana, menikmati Rectoverso seolah membaca kisah hidup kita sendiri, dan membuka jiwa, saat kita mulai membaca fiksinya, dan diakhiri dengan mendengar lagunya.

Buku ini berisi 11 kisah dan 11 lagu sebuah kombinasi angka yang cantik. Kesebelas cerpen dan lagu ini sengaja dibuat dengan judul yang sama. Dengar fiksinya.., Baca musiknya..



Read More......

TeenLit: Aerial

Aerial
oleh: Sitta Karina

Sinopsis:

"Kamu familiar. Bau darahmu familiar."
"Aku sama sekali tidak mengenalmu."
"Kamu tahu siapa aku, Putri."


Sadira si Putri Matahari dan Hassya sang Pangeran Kegelapan merupakan musuh bebuyutan dari dua negeri yang saling bertolak belakang; yang satu menjadikan matahari sebagai sumber hidupnya, satu lagi akan terbakar apabila terpapar langsung oleh sinarnya. Awalnya Sadira berpikir klan Kegelapan adalah sekumpulan monster sampai tanpa sengaja ia diselamatkan oleh Hassya yang berkulit pucat, tampan, dingin, seenaknya sendiri, namun memiliki sorot mata yang jujur.

Menurut ramalan kuno, apabila mereka bersatu maka kedua bangsa tersebut akan menghadapi kehancuran. Namun Hassya bertekad akan melawan apa pun yang menghalangi mereka dan menjadi pelindung bagi Sadira.

Untuk mencegah kehancuran tersebut, Antya, adik Sadira, dan Linc, si kuda terbang putih, berusaha memanggil penolong dari dunia lain---Laskar dan Sashika, pelajar SMU Surya Ilmu---dunia yang hutannya tidak seindah di negeri mereka serta dipenuhi bangunan pencakar langit.

Dunia yang akan mendukung cinta Sadira dan Hassya sepenuhnya.

"Reading this novel, I keep on trying to visualize every detail from Sitta's great imagination..."
Anita Moran, Editor-in-Chief and Creative Director of Gogirl! magazine

"Sitta Karina adalah penulis novel remaja yang berjiwa sastra...."
Kristy M. Baskoro, penikmat novel Sitta Karina jarak jauh, pelajar di Uniworld High School , Sydney



Read More......

Cerpen: En, Apa Kau Memaafkanku?

En, Apa Kau Memaafkanku?
oleh: Abd. Qodir al-Amin

Hari ini terasa begitu melelahkan. Setumpuk buku masih berserakan di atas meja. Berlembar-lembar makalah yang berjejal di meja komputer membuatku amnesia. Satu minggu lagi desertasiku harus selesai. Aku benar-benar dikejar waktu. Entahlah, untuk hari ini saja, aku benar-benar ingin istirahat. Sejenak melepas ratusan tesis yang memusingkan. Kutatap barisan rak buku yang membuat kamarku terasa sempit. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada rak di pojok ruangan. Rak itu tempat khusus untuk menyimpan file-file pribadiku. Ah… sudah lama tak kujamah rak itu. Sebuah buku bersampul biru muda menarik perhatianku. “Kumpulan Manuskrip Biru”.

Ya, lebih baik kubaca manuskrip ini saja. Mungkin dengan berkelana di masa silam, penat di kepalaku dapat berkurang. Aku berharap akan menemukan sesuatu yang lucu di sana, atau kenangan-kenangan yang mampu membuatku bersemangat lagi, setidaknya, aku dapat terhibur dengan mengarungi masa lalu.

Amboi, betapa kenangan benar-benar hantu yang tak mampu kubunuh. Ia seperti orang tua yang mengajariku untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Tak jarang, masa lalu seperti Ayahku yang menghukumku karena berbuat kesalahan, ada kalanya membelaiku lembut bak seorang Ibu. Hmm.. mungkin aku berpendapat bahwa masa lalu adalah orang tua ketigaku setelah Ayah-Ibu dan Guruku.

Selembar demi selembar kujelajahi tulisan-tulisan yang mengabadikan kisah-kisahku. Aku mulai serius ketika sampai kepada halaman berjudul “Kotak Pink-ku Sayang”. Sebuah file yang kutulis dan kukirimkan kepada seseorang. Ah, di sini, aku benar-benar tidak menyukai masa lalu. Tiap kali membaca bagian ini, bagian “Kotak Pink-ku Sayang,” serasa masa lalu benar-benar telah memberikan hukuman abadi untukku, hukuman yang tak pernah lepas dari tubuhku. Hukuman yang mungkin akan menyiksaku seumur hidup. En, apa kau memaafkan aku?

Kepada: En

Halo, En! Maaf ya, aku nulis surat buat kamu. Tak apa-apa kan… Halo, En! Aku minta pendapat, gambar ini bagus ya? Aku sudah lama sekali melupakan gambar ini. Gambar boneka panda yang lucu. Iya..ya.. gambar boneka panda, bukan gambar seekor panda, tapi gambar boneka panda. Kamu pasti tahu! Kalau lupa, coba ingat-ingat! Bertahun-tahun yang lalu, gambar ini begitu melekat dalam hidupku. Kamu bisa melihat, kan… wajahnya sendu. Meski tersenyum, gambar ini kelihatan menyembunyikan sesuatu… sesuatu yang begitu sedih. Tersimpan rapat-rapat dalam hati yang sepi…dan sungguh! Tiap kali aku memandang gambar ini, aku selalu ingin berubah menjadi seekor induk panda, Iya…ya… seekor induk panda yang akan menghapus kesedihannya, seekor induk panda yang akan melindunginya dari dingin, atau seekor induk yang akan mengajaknya bermain, bernyanyi dan bergembira.

Ya, bertahun-tahun yang silam, ketika aku masih sering sekali bermain dadu. Mungkin sekarang pun aku masih suka bermain dadu. Kamu tahu, kan… DADU? Itu lho, DADU. Setiap sisi mukanya berbeda. Berbeda angka, berbeda warna dan berbeda gambar… Bentuknya kotak. Ya, kotak. Ah, benar… Aku jadi ingat tentang kotak. Aku menyimpan sebuah kotak. K-O-T-A-K. Nah, aku akan bercerita tentang kotak itu.

Halo, En! Kamu masih membaca suratku, kan? Ya, terima kasih… Beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba saja ada sebuah kotak tergeletak di kamarku. Aku tak tahu siapa yang menaruhnya. Tak ada siapa-siapa di kamarku, tak ada yang bisa memasuki kamarku kecuali atas ijinku. Bahkan Ibuku! Ibuku membenci kotak, segala sesuatu yang berbentuk kotak, sesuatu yang mempunyai sudut sembilanpuluh derajat, Ibuku membencinya (tapi aku tidak akan menceritakan padamu sebab atau alasan kenapa Ibuku membenci kotak, ini rahasia keluarga)

Hihihi, kotak itu warnanya pink! Ya, warnanya pink, dan ukurannya lebih besar sembilan kali lipat dari dadu. Aku benar-benar tak tahu siapa yang menaruhnya di kamarku. Mungkin malaikat yang menaruhnya. Tapi kotak itu tidak ada gambarnya. Setiap sisinya berwarna pink-polos. Tidak ada angka dan tidak ada gambar. Pink! Itu saja.

Halo, En! Kamu tahu, apa isi kotak itu? Ah, benar. mana mungkin kamu tahu. Kamu kan sedang membaca ceritaku.

Kotak itu berisi sesuatu yang bisa membuatku begitu bahagia. Membuat hidupku begitu riang. Setiap hari, aku selalu membukanya, kemudian senyum-senyum sendiri. Kotak itu begitu lucu. Aku menyukainya. Ya, aku menyukainya. Aku tak ingin kehilangan kotak itu. Tapi tiba-tiba saja isi kotak itu hilang. Kenapa?

Aku sedih. Sedih sekali. Aku menangis. Menangis sekali. Tidak ada yang mencuri. Dan tidak dicuri. Isi kotaknya hilang. Halo, En! Aku sedang bersedih. Hatiku menjadi sepi… hidup terasa tak indah lagi… isi kotak itu hilang.

Aku membawa kotak itu ke dalam gudang. Aku sadar, isi kotak itu tidak akan kembali. Tinggal kotak semata, tanpa isi, tanpa arti. Kusimpan kotak itu di gudang. Aku tak ingin membuang kotak itu. Tapi aku simpan di dalam gudang, kukunci rapat-rapat. “Blank!” Begitu bunyi pintu gudang itu kubanting. “Blank!” Agar aku tak bersedih. Agar aku tak mengingatnya lagi. Siapa tahu isinya akan ada lagi. Tiba-tiba saja. Aku berharap sekali. Isi kotak itu akan kembali. Kukatakan kepada temanku-temanku. Kotak pink itu sudah aku buang. Sudah aku bakar. Halo, En! Aku membakar kotak pink itu.

Diam-diam, aku selalu memasuki gudang itu. Padahal, aku paling benci dengan gudang, apalagi berada di dalam gudang. Tapi semenjak gudang itu kujadikan tempat penyimpanan kotak pink, aku jadi betah. Diam-diam, aku sering menangis, berhari-hari di dalam gudang. Kalau aku larut dalam tangisan, aku akan membawa kotak itu ke kamar. Di atas kasur. Kupeluk kotak itu, kutangisi hingga aku letih. Buru-buru kumasukkan kotak itu ke gudang lagi. Isinya memang tak mungkin kembali. “Blank!” Begitu bunyi pintu gudang itu kubanting.

***

Aku pulang. Aku punya kotak baru. Aku membawa kotak baru. Warnanya juga pink. Tapi dua sisinya ada yang berwarna putih dan hitam. Selanjutnya, kotak itu yang selalu menemaniku di kamar. Aku menyebutnya kotak tiga warna. Pernah kubawa kotak-kotak yang lain. Tapi segera kubuang. Aku tak suka. Kalau aku ingin menangis, aku menangis kepada kotak tiga warna itu. Kalau aku ingin marah, aku marah kepada kotak baru itu. Kotak itu temanku sekarang. Kotak pink yang ada di gudang, biar saja membusuk. Aku ingin melupakannya. Tapi ternyata sulit… Tetap saja aku sering masuk gudang. Diam-diam dan memperhatikan isi kotak itu. Tapi tetap saja tak ada isinya. Ah, biarkan saja! Aku sudah punya kotak baru. Kotak tiga warna.

Hariku kembali bersemangat. Kulalui penuh cerita. Kotak tiga warna itu sudah menjadi bagian dari hidupku, sebelum akhirnya terjadi goncangan keras. Bumi berputar-putar. Gemuruh ada di sana-sini. Suara-suara panik berhamburan. Kotak baruku hilang. Hah! Hilang? Kotak barunya hilang. Kotak tiga warnaku hilang. Isinya masih tertinggal di kasur. Tapi kotaknya hilang. Apa ada pencuri? Aku merasa sangat kehilangan. Aku tidak ingin menangis. Tapi aku terlanjur menyukainya. Sudah kukatakan kepada teman-temanku. Kotak itu milikku. Kotak itu ada di kamarku. Tapi kenapa hilang? Halo, En! Kotak itu hilang. Apakah Tuhan mencurinya dariku, tahu malaikat yang marah kepadaku karena telah menelantarkan kotak pink pemberiannya. Ah, malaikat itu kekanak-kanakan sekali. Padahal aku sayang sekali dengan kotak tiga warna itu, ia sudah lama sekali menemaniku. Menghias ruang dan hidupku. Menyemangati hariku. Dan kini kotak itu hilang.

Aneh… Kotak pink yang ada di gudang hilang isinya, sedang kotak tiga warna yang ada di kamar hilang kotaknya. Sungguh, benar-benar aneh!

Halo, En! Apa kamu masih mengikuti ceritaku. Aha! Terima kasih. Menurutmu, apa yang akan aku lakukan jika aku mempunyai satu kotak yang tak ada isinya dan satu isi yang tak ada kotaknya? Aha! Kamu salah! Aku tak akan menyatukan keduanya. Aku tidak akan memasukkan isi yang tak ada kotaknya ke dalam kotak yang tak ada isinya. Ya! Kamu salah! Karena itu tak mungkin bisa.

***

Ah, isi kotak tiga warna ini, apa baiknya kusimpan saja di gudang, ya? Sama seperti kotak pink yang ada di sana. Biar saja membusuk bersama usia. TIDAK! Lebih baik kubakar saja, kubuang dan abunya kusebar di Sungai Gangga. Itu solusi yang tepat! Tapi, untuk kotak pink yang ada di gudang, apa baiknya juga kubakar dan kubuang abunya di Sungai Gangga?

TIDAK! Aku menyukai kotak pink itu. Meski aku selalu dibuat sakit karenanya. Tidak! Kotak pink itu tidak akan pernah kubuang.

***

Aneh.. Aku malah ketemu satu kotak lagi. Kotak itu ada di kolong tempat tidurku. Baunya busuk, warnanya hitam semua, dan isinya kotoran. Aku mengambil kotak hitam itu. Ah, apa mungkin Tuhan hendak menggantikan kotak-kotak kesayanganku dengan kotak hitam ini?
“Aduh!” Kotak hitam itu yang akhirnya selalu menemaniku. Ya, sudah!

***

Halo, En! Aku pergi. Ya, aku pergi. Ketika pulang kembali, kotak hitamku dimaling orang. “Nasib!” Sudah lelah-lelah aku mencari cat warna, sudah letih-letih aku membeli parfum, sudah capek-capek aku mencari pembersih kotoran. Ternyata kotak hitamku digarong orang. Halo, En! Aku capek. Sudahlah, aku tak ingin menangis, membenci dan murka. Biar si Garong itu saja yang merawat kotak hitamku.

***

Aku masih punya satu kotak lagi. Kotak pink yang ada di dalam gudang. Halo, En! Kamu masih ingat kan? Aku tak pernah membuang kotak pink itu! Meski sudah tak ada isinya, tapi aku sangat menyukainya. Aku tak ingin menangis lagi, meski isi kotaknya sudah tak ada. Meski isi kotak itu sepertinya tak mungkin ada. Tak mungkin kumiliki. Tapi aku menyayanginya. Sejujurnya, aku ingin kotak pink itu sempurna dengan isinya, menjadi temanku, menghias ruangku, mengisi hidupku. Tapi sepertinya memang tak mungkin. Ya, sudahlah! Biar kusimpan saja di dalam gudang.

Halo, En! Kamu tahu apa isi kotak pink itu? Isi kotak pink yang hilang bertahun-tahun lalu itu? Halo, En! Apa kamu tahu? Apa kamu mengerti? Haloooooooo!!! Isi kotak itu adalah gambar boneka panda, iya… gambar boneka panda yang kamu hadiahkan untukku di malam perayaan ulang tahunku ke duapuluh empat, di bawah gambar itu tertera sebuah nama, nama yang indah sekali. Nama yang begitu melekat di hatiku, di hidupku, bertahun-tahun lamanya. “En Febrian Dewi” Kamu mengerti, kan?!

Terimakasih, En, kamu telah setia mengikuti derasnya tulisan ini!

Semoga kau selalu mengingatku:
Laki-laki bodoh yang selalu mencintaimu,
tapi tak pernah berani mengatakannya.

***

Surat ini mengantarkan orang yang paling aku cintai pergi ke tempat paling sepi. Tempat terjauh yang paling abadi. En meninggal dalam kecelakaan sewaktu hendak menyusulku ke stasiun Lempuyangan. Ya, tepat dua jam setelah kuberikan tulisan ini di halaman kampus dan aku pamit hendak meninggalkan Yogyakarta untuk selamanya. Ah, En. Apa kau memaafkanku?

Read More......

Cerpen: Prahara Cinta

Prahara Cinta
oleh: Binu

Hai namaku Sandy. Aku adalah seseorang yang tak peduli dengan perasaan, jatuh cinta atau peduli tentang orang lain. Aku acuh dan ketus. Semua orang hampir sama opininya tentang aku, yaitu aku adalah orang yang sombong. Aku akui diriku memang tak begitu suka dengan puji-pujian maupun sanjungan, aku lebih suka kritikan dan opini tentang aku. Mungkin aku adalah orang yang aneh, tapi jujur aku memang orang yang tak begitu tahu tentang logika orang-orang sekitarku. Mereka seperti tak menganggap diriku ada di sekitar mereka.

Saat itu aku masih berumur 9 tahun, aku terkena penyakit asma. Setiap aku menghirup udara kotor, dadaku terasa sesak dan aliran nafasku seperti tersengal-sengal. Bagi anak seumuranku penyakit asma adalah hal yang tidak wajar. Karena itu dapat mengganggu sistem fisik yang sedang tumbuh dan berkembang. Saat itu aku sedang mengikuti kegiatan ekstra di sekolah, tiba-tiba segerombol anak datang menghampiriku, mereka mengambil alat pernafasanku sambil melempar-lemparkannya ke teman yang satu ke yang lain. Aku berusaha meminta namun gagal, bahkan aku sampai berlari-lari mengejarnya, namun tetap saja gagal bahkan nafasku sulit ku atur sehingga aku terjatuh dan pingsan. Mulai saat itu aku jadi benci dengan orang dan tak mau berkomunikasi dengan orang lain sampai 3 tahun, aku diterapi. Terapi itu sempat memancing suaraku yang selama itu hilang muncul kembali. Namun beberapa bulan kemudian aku kembali mengalami trauma itu sampai pada umurku 14 tahun. Pada waktu umurku 14 tahun, aku diikutkan terapi lagi bagi anak yang sulit bicara. Dari kecil aku seperti tidak mengenal sekolah, karena aku tumbuh tidak normal layaknya anak anak seumuranku. Namun saat aku berumur 12 tahun aku sempat bersekolah di SLB Malang, sampai umurku 14 tahun itu. Aku mulai belajar bicara pada usia 15 tahun dan umur 16 tahun aku baru bisa bicara layaknya anak anak seumuranku. Aku begitu senang namun begitu aku tak banyak berubah seperti sebelum ikut terapi kedua saat itu.

Waktu berganti tahun aku berumur 17 tahun, aku bertemu dengan seorang teman bernama Dean Arga. Dia adalah satu satunya teman yang aku punyai saat itu setelah aku pindah dari SLB dan bersekolah di SMA Negeri 2 Malang. Awal aku bersekolah di sana aku merasa minder namun begitu aku mengenal Dean, aku jadi merasa minderku agak berkurang. Untuk itu aku sering menghabiskan waktu dengannya. Selain itu Dean adalah anak yang pandai nomer 2 di kelasku. Dia sering memberiku motivasi agar aku tidak minder. Dua tahun aku berteman dengan Dean dan kini aku sudah kelas 3, dan dua tahun pula aku bersama dengan yang lainnya. Hingga aku benar benar jatuh cinta dengan Dean. Saat itu Dean memang tidak mengetahui bahwa aku suka dengannya, karena aku tidak mau dia tahu dan pergi meninggalkan aku. Aku hanya memendamnya.

Selang beberapa bulan, Dean mengetahui perubahan sikapku. Aku jadi semakin menjauh. Dia tak terima dengan sikapku, kemudian marah dan pergi meninggalkanku. Saat itu aku hancur dan mencoba meminta maaf namun gagal. Dia tidak mau memaafkanku. Sampai beberapa hari kemudian musibah datang menimpaku. Sebuah mobil sedan hitam menghantamku saat aku berusaha mengejar Dean untuk mencoba meminta maaf. Dia mungkin terkejut karena sebelum aku pingsan aku sempat merasa kalau Dean memikul aku masuk ke dalam mobil sedan yang menabrakku dan mengantarku ke rumah sakit.

Aku tak tahu sudah berapa hari aku dirawat di rumah sakit. Saat itu aku merasa di dimensi lain, aku melihat hamparan tanah yang hijau dan beberapa anak memanggilku untuk bermain. Saat aku melangkahkan kaki, tiba tiba Dean dari belakang menarik lenganku dan mengajakku menjauh dari anak-anak itu. Wajah anak-anak itu menunjukkan kekecewaannya. Namun begitu secercah cahaya menghampiriku dan Dean. Aku tersadar dari komaku.

Aku sempat merasa detak jantungku berhenti, namun setelah itu aku sadar dari komaku. Aku melihat ayah dan bundaku yang masih menungguku di pinggir tempat tidur. Kucoba menoleh ke samping kanan, ada Dean yang memegang tanganku sambil lelap tidur. Entah apa yang aku rasa saat aku melihat dia menemaniku saat itu. Gerakan lemah tanganku membuatnya terbangun dari tidur. Ayah dan bundaku juga ikut terbangun. Mereka semua nampak bahagia melihatku sadar dan siuman. Sewaktu aku menanyakan sejak kapan aku dirawat di rumah sakit, kedua orang tuaku bilang sejak 13 hari yang lalu. Ternyata aku sudah lama tinggal di rumah sakit. Saat aku ingin bangun kaki kiriku terasa lemah dan tak bisa digerakkan, aku mencoba membuka selimut penutupnya dan ternyata kakiku penuh dengan perban. Aku menangis sejadi jadinya. Sedangkan ayah bundaku tidak bisa berbuat apa apa hanya kata sabar yang terucap dari bibir mereka. Aku hancur, putus asa dan hilang semua harapanku. Aku telah cacat.

Beberapa hari kemudian aku sudah diijinkan pulang oleh dokter. Ayah dan bundaku mengiringiku saat Dean medorong kursi rodaku dan membantuku masuk rumah. Saat itu semuanya berubah, akhirnya Dean mengutarakan isi hatinya padaku saat harapan dan impianku sudah musnah. Namun hatiku sudah hancur, aku mengusirnya dari rumah dan melarangnya kembali. Aku benci dia… aku benci dia. Mulai saat itu, aku tak pernah bertemu dengan dia lagi, hampir dua bulan aku tak bertemu, di sekolah pun aku juga tak melihatnya. Dalam hati aku bertanya apa sampai segitunya Dean membenciku. Terakhir aku dengar kabar dia sedang sakit, tapi aku tak tahu dia sakit apa, setahuku selama ini dia hanya punya penyakit pusing. Entah apa yang membuatku merindukannya, sedang dulu aku kecelakaan karena aku hanya ingin meminta maaf dengannya. Namun dia menolaknya, sehingga kini aku cacat. Keinginanku hanya satu menemui orang tua Dean. Sore hari yang mendung aku nekat pergi ke rumah Dean.

Jantungku saat itu terasa berhenti dan urat nadiku terasa terpotong paksa. Ternyata orang yang selama ini dekat denganku yang aku cinta, kini hanya tinggal kenangan saja, hanya tinggal nama, karena orang itu (Dean) kini telah berada di alam yang berbeda, dia telah menghadap Sang Khaliq, karena dia tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya akibat kanker otak. Dean meninggal lima hari yang lalu dan aku tak tahu dan keluarganyapun menyembunyikan berita itu. Orang tua Dean hanya memberi tahuku di mana makam Dean dan memberiku sekotak kado besar yang isinya semua barang milik Dean. Di sana tertera namaku dan Dean serta tanggal 21 Nopember 2003. Aku kaget setelah ditambah secarik surat berwarna biru muda ditanganku yang isinya :

Dear : Sandy

Kuharap ini bukanlah akhir aku melihatmu, dan melihat semua waktu yang telah kita lalui bersama. Aku tahu umur bukanlah aku yang mengukur dan waktu yang akan tiba nanti bukan jaga keinginanku. Aku minta maaf sama kamu apabila aku telah membawamu ke duniaku yang hampa, itu dulu saat kamu belum ada di dalam hari-hariku. Namun sekarang engkau akan selalu ada dalam hatiku. Mungkin aku telah salah sama kamu, karena membiarkanmu menjauh dariku, hanya karena kamu tak ingin aku mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya. Jujur sejak maupun sebelum kamu menjauhiku, aku sudah merasa yakin bahwa kamu memiliki perasaan padaku. Namun aku pura pura tidak mengetahuinya. Aku malah berbalik menyalahkanmu karena kamu selalu menghindariku. Dengan alasan itulah aku bisa membuatmu sedikit merasa bersalah padaku dan membuatmu selalu dekat denganku. Namun aku tak menyangka, kecelakaan tragis itu membuat kamu kehilangan sebelah kakimu yang normal dan membuatmu membenci diriku lalu mengusirku. Saat itu aku merasa bersalah padamu. Aku malu bertemu denganmu, hingga akhirnya aku menghilang. Sebulan setelah itu, aku sudah merasakan detik-detik terakhir hampir dekat dan aku sengaja menuliskan ini padamu dan membuat foto kita berdua yang ada nama kita berdua lengkap dengan tanggalnya yaitu 21 Nopember 2003. Itu adalah hari saat aku mengungapkan perasaanku padamu dan sekarang aku akan pergi mendahului kamu, aku minta maaf karena mungkin sudah sangat parah kondisiku. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesarnya karena dirimu aku punya semangat untuk hidup. Maafkan aku yang telah buat kakimu cedera. MAAF SELAMAT TINGGAL SANDYKU YANG MANIS.

Yang mencintaimu,

DEAN ERGA

Aku tak menyangka ternyata selama ini aku telah salah besar dengan Dean. Ternyata Dean itu baik namun karena penyakitnya tersebut Dean sengaja menjadi anak yang bandel dan egois. Seketika itu air mataku tak dapat terbendung lagi, aku tak kuasa menahan segala rasa. Aku menyesal karena saat aku mengusirnya dulu ternyata saat itu juga aku terakhir melihat Dean dan untuk selamanya. Sesalku tak dapat aku tanggungkan. Aku jatuh sakit dan kondisi tubuhku memburuk. Terpaksa kedua orangtuaku membawaku ke rumah sakit. Pada saat itulah aku jadi tak percaya cinta dan tidakkan jatuh cinta. Karena cinta hidupku sengsara. Sakit rasanya kehilangan orang yang kita cinta. Aku tak inginkan itu lagi, sekarang aku menutup diriku untuk orang lain, aku jadi banyak diam dan menyendiri. Waktu terus berjalan seiring dengan perubahan dalm diriku. Awalnya kedua orang tuaku khawatir, takut kalau kejadian 6 tahun lalu terulang kembali. Beruntung aku menyakinkan ayah bundaku bahwa itu takkan terulang kembali kini, mereka jadi terbiasa. Aku jadi sulit bergaul dan berhubungan dengan masyarakat luar. Sebagian besar waktuku hanya aku habiskan di sekolah dan kamar. Sekarang 90% sikapku kini berubah total, aku jadi lebih banyak menyendiri, jutek, ketus, dan tak ingin tahu orang lain sama orang lain juga tak ingin mengenalku.

Dua tahun kemudian aku masuk kuliah di universitas terkemuka di Jakarta. Satu tahun yang lalu keluargaku pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan, kini mereka tinggal bersamaku di sini. Kini aku bisa berkumpul dengan kedua orangtuaku kembali. Aku di universitas tersebut mengambil jurusan kesenian karena menurutku jurusan itu bisa membuatku lebih memahami seni di berbagai kehidupan, termasuk kehidupan masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Aku senang kehidupanku sekarang lebih baik dibanding dulu. Aku jadi tak lagi merepotkan semua orang.

Dua tahun kemudian, aku sudah menjadi seseorang yang sukses yaitu aku menjadi seniman terkenal sekaligus menjadi penasehat direktur yang terkemuka di Jakarta. Ini semua berkat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan-Nya kapadaku, dan berkat bimbingan kedua orangtuaku. Aku sekarang tak lagi kekurangan dan hidup terjamin namun hanya satu yang tak kupunyai yaitu……

Dan aku hanya pasrah pada-Nya semoga dia membukakan pintu hatiku yang hampa karena lukaku dulu. Amin.

Read More......

Islami: Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
oleh: Habiburrahman El Shirazy

Sinopsis :

Buku ini menceritakan tentang mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di tanah Mesir, tentang perjuangan, pendidikan dan banyak sekali makna yang terkandung dalam setiap tulisan sang pengarang dalam buku ini. Meskipun buku ini lebih ke pengenalan tokoh saja yang sesungguhnya cerita sebenarnya terdapat dalam Ketika Cinta Bertasbih 2.

Mulai kisah tentang Azzam seorang pemuda pembuat tempe dan bakso untuk menghidupi Ibu dan adik-adik perempuannya di Indonesia serta kehidupan di Cairo, sehingga membuat study S1 nya terhambat beberapa tahun, dan dikarenakan oleh status sosial itulah yang membuatnya ditolak untuk mengkhitbah salah seorang wanita yang secemerlang Anna, yang ternyata telah dikhitbah terlebih dahulu oleh Furqan, sahabat Azzam sendiri. Namun sampai beberapa bulan Anna tak kunjung memberi jawaban atasnya (Furqan).

Seorang Furqan yang orangtuanya sangat kaya dan berada di Indonesia, memiliki ilmu yang membanggakan olehnya, orangtuanya dan Indonesia. Hampir seluruh jalan hidup baginya dimudahkan Allah, mulai dari kemudahan menuntut ilmu yang sangat berbeda jauh dengan Azzam yang harus mencari nafkahnya sendiri dan menghidupi ibu dan adik-adiknya, Furqan jauh diatasnya, hidup bergelimangan sehingga membuatnya lupa dan terlalu berlebihan dalam menggunakan pemberian Allah, sehingga menjadi batu sandungan buat hidupnya kelak. Yang menjadi awal sejarah terbentuknya virus mematikan yang kini bersarang ditubuhnya. HIV AIDS. Yang membuat Furqan sendiri tak mampu merasakan bahagia ketika lamarannya diterima Anna.

Kisah cinta dua insan Fadhil dan Tiara yang terpisahkan oleh ego dan emosi sesaat, yang menjerumuskan mereka ke dalam siksa penyesalan dunia.

Tentang Eliana putri Dubes Indonesia di Mesir, yang sempat beberapa waktu pernah dikagumi Azzam, tentang Hafez dan Cut Mala (adik Fadhil), dan masih banyak kisah seru yang sayang kalau tidak dibaca.

Lanjutan cerita Ketika Cinta Bertasbih ini masih sangat menarik dari segi cerita. Buku kedua ini berisi tentang pencarian cinta Azzam di tanah kelahirannya (Pulau Jawa), kenangan Husna (adik Azzam) sewaktu Ayah mereka dipanggil oleh Sang Khalik. Buku ini juga menggambarkan betapa jodoh adalah rahasia Allah yang sangat tak mudah untuk dapat ditebak oleh manusia.

Setelah membaca buku 1 dan 2, banyak hal yang akan diketahui tentang Islam dan sedikit demi sedikit pengetahuan pembaca akan Islam semakin bertambah. Sesuai dengan tema novelnya yakni novel pembangun jiwa, sang pengarang betul-betul dengan sungguh-sungguh menciptakan suatu alur cerita yang mau tidak mau dapat menyadarkan pembacanya tentang betapa indahnya hidup jika dilandaskan dengan Al-Quran dan Sunnah Rosul.

Nggak ada ruginya untuk membeli buku ini karena bukan sekedar cerita yang disuguhkan tetapi banyak ilmu-ilmu tentang Islam yang akan diperoleh. Buku ini juga wajib dimiliki oleh orang-orang yang selama ini mencari angin baru dari sebuah novel.

Download: Ketika Cinta Bertasbih 1 | Ketika Cinta Bertasbih 2 |



Read More......

Islami: Pudarnya Pesona Cleopatra

Pudarnya Pesona Cleopatra
oleh: Habiburrahman El Shirazy

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. "Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu", kata ibu.

"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu", ucap beliau dengan nada mengiba. Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! ", kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab, "Tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga". Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil 'mbak', "Kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku", tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam", jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?

Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini". Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi. Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa", tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih", lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap", kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe". Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. "Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?", tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". "Biasanya dikerokin", jawabku lirih. "Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin", sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya. "Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu", kata Ratu Cleopatra. "Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba "Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya", kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya", lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

"Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dielukelukan keluarga tidak datang". Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. "Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana", lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. "Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!", panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. "Ya Mas!", sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil 'dinda'. Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah", ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. "Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?"
Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memakimaki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini. Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.

"Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!", Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. "Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu", kata ibuku. "Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?", sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya, "Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan mendesah sedih. "Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta", gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, "Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntahmuntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?", kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah", jawabku. "Dengan orang mana?". "Orang Jawa". "Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". "Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". "Kenapa dengan Bapak?" "Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang". "Bagaimana itu bisa terjadi?"

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.

Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali namun Yasmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengen rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. "Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang.

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan ya Rabbii ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba", tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa, "Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. "Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi. "Raihana…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya". "Ada apa dengan dia". "Dia telah tiada". "Ibu berkata apa!". "Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.

Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya". Hatiku bergetar hebat. "Kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?".

"Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami".

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ......

Sumber : Buku Pudarnya Pesona Cleopatra (Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa)

Read More......

Advertisement

Copyright © 2010 Dufan Blog's All rights reserved.
Wp Theme by Templatesnext . Blogger Template by Anshul