Cerpen: Saat Ultah

Saat Ultah
oleh: Putra Gara


Sekaranglah kesempatannya, ya sekaranglah kesempatannya, benak saya membatin, menerobos keraguan yang sudah cukup lama saya pendam.
Maka, segera saya bungkus "Jalan Menuju Cinta"-nya Jalaludin Rumi, dan "Surat-surat Cinta"-nya Khalil Gibran, dengan kertas kado berwarna merah muda.
Ya, sekaranglah kesempatannya, sekali lagi, benak saya membatin, memantapkan hati saya.
***

"Retnooo...! Retnooo...!" panggil Ratih setengah teriak. Gadis itu tersenyum ke arah saya. Senyumnya manis, tidak beda dengan senyum Retno, adiknya.
Saya juga tersenyum.
"Masuk aja, Van," katanya. "Sebentar ya saya panggil Retno-nya."
Saya mengangguk sambil tersenyum lagi. Sepatu kets yang saya kenakan saya buka sebelum melangkah ke dalam rumah. Setelah sampai di dalam, saya menjatuhkan pantat di atas sofa.
Sejak dari rumah, jantung saya yang berdetaknya kelewat rajin semakin menjadi-jadi saja. Bahkan waktu saya mengendarai motor dari rumah saya ke rumah Retno ini pun, perasaan suara detak jantung saya lebih cepat ketimbang lari sepeda motor itu. Ada hembusan napas berat dari hidung saya. Tanpa sadar, saya remas kado di tangan. Gelisah.
Beberapa menit kemudian, sosok dengan gaun coklat muda yang pada lengan tangannya ada dua garis hitam muncul dari dalam kamar.


***
Ada senyum yang mengembang.
Ada pula senyum balasan.
Untuk beberapa detik, di antara senyuman, mata saya beradu pandang. Tapi kemudian, sosok bergaun coklat yang punya rambut panjang itu tertunduk malu. Tersipu.
"Hai...." sapa saya, pelan.
Tidak ada sahutan, cuma ada senyum yang kembali mengembang. Perlahan, masih dengan tersipu malu, sosok dengan gaun coklat berambut panjang, gadis cantik nan manis bernama Retno Ayu Larasati itu duduk di sofa.
"Main, Van," suara Retno merdu terdengar.
"He-eh," saya menjawab dibarengi anggukan.
Kami saling senyum lagi.
"Kenapa tadi siang nggak masuk sekolah?" tanya saya, hati-hati.
"Sengaja," jawab Retno, sudah tidak tersipu lagi.
"Bukankah... bukankah... hari ini kamu ulangtahun?"
Retno tersenyum. "Iya," jawabnya, sambil memandang saya sebentar. "Setiap ulangtahun, dari mulai kelas dua SMP, saya sengaja mengurung diri di rumah, di dalam kamar," kata Retno. "Saya kepingin ngoreksi diri saya saat hari kelahiran saya. Makanya saya nggak ke mana-mana."
Hening....
"Sekarang saya sudah kelas dua SMA," ujarnya, cuma sejenak. "Saya kepingin belajar dewasa. Lewat perenungan, di hari kelahiran saya," tambahnya lagi.
Hening lagi.
Saya memandang Retno.
Retno tertunduk.
"Retno...."
"Hmmm...."
"Tadi, saat kamu menyudahi kata-kata kamu itu, kamu pun sudah dewasa, No," kata saya, pelan. "Selamat, ya."
Retno mengangguk dengan senyuman.
"Nggak ada yang bisa saya berikan selain ini," saya menyodorkan kado di tangan saya. "Cuma buku bacaan."
Retno menerima kado pemberikan saya. "Makasih ya, Van," katanya, sambil ingin membuka bungkus kado itu.
"Eh, bukanya nanti saja, kalau saya sudah pulang. Jangan sekarang. Sebentar saya malu."
Retno kembali tersenyum. Saya juga.
Lalu diam.
Hening pun ada lagi.
Agak lama, hening itu menguasai.
"Silakan diminum airnya, Van." Tiba-tiba Ratih sudah berada di antara kami, sambil meletakkan air putih di atas meja.
"Waduh, saya sampai lupa ngambilin air minum," Retno tersenyum.
"Nggak apa-apa. Makasih ya, Tih."
Ratih juga tersenyum. Lalu pergi kembali membawa baki.
Saya meminum air yang dibawa Ratih, sedikit. Lalu diam lagi.
Hening lagi.
"Jangan pandang saya seperti itu, Van!" Retno tersipu, ketika mata saya menjajahnya.
"Kenapa?"
"Malu." Retno tersipu lagi.
Saya tersenyum. "Saya ingin melihat hati kamu. Sebenarnya sih, sudah lamaaa banget," kata saya, sambil menggoda.
"Lho, mana bisa," Retno merunduk. "Hati saya ada di dalam, kok, di sini," ia meraba dadanya dengan jari manisnya.
Saya tersenyum lagi. "Hati kamu sebenarnya dekat banget dengan saya, No. Cuma... saya takut mengambilnya, takut kamu marah."
Kali ini Retno yang tersenyum. "Kenapa?" tanyanya sembari mempermainkan ujung rambut panjangnya. "Apakah selama ini saya pernah marah sama kamu?"
"Nggak, kamu nggak pernah marah sama saya. Kamu baik, kok!"
Kami berdua saling senyum lagi.
Lalu hening lagi.
"Retno...." Kalimat saya digantungkan. "Kamu nggak marah kalau saya bicara terus terang sama kamu?"
"Lho, tadi kan sudah saya bilang, apakah saya pernah marah sama kamu? Dan dari tadi juga, kita sudah saling bicara, kok."
"Tapi yang ini lain, No." Deg, deg, deg! Tiba-tiba detak jantung saya kelewat rajin berdetak lagi, setelah beberapa menit yang lalu sudah kembali normal.
"Lain apanya? Coba deh, bicara aja."
"Benar, nih? Kamu nggak marah?"
Retno tersenyum.
Detakan jantung saya seperti laju kereta, cepaaaat banget.
"Saya... saya... saya suka kamu, No!"
Plep! Langsung wajah Retno merona merah. Dia merunduk. Tidak tersenyum dan tidak tersipu lagi.
Dia diam.
Dan terlambat sudah bagi saya untuk menyesal.
Apalagi menarik kembali kalimat yang sudah terlontar.
Lama juga kami saling diam.
Retno tetap merunduk.
Dan saya tetap menatap lekat ke gadis yang duduk di depan saya, yang dipangkuannya ada kado berwarna merah muda.
"Maafkan saya, Retno, kalau saya bersalah ngucapin kata-kata itu." Saya menarik napas panjang.
Sedikit, Retno mengangkat kepala. "Nggak, kamu nggak salah, kok. Itu memang hak kamu kalau kamu kepingin ngucapin kata-kata itu."
"Jadi kamu nggak marah?"
Retno menggeleng.
"Kamu... kamu juga suka saya, No?"
Retno tidak menjawab. Dia merunduk dalam. Seperti ada ganjalan di napas yang ia keluarkan.
Hening lagi.
Saya menunggu saat-saat selanjutnya.
Retno mengangkat kepala. "Kamu benar-benar suka sama saya, Van?" tanyanya, serius.
Saya tersenyum dan mengangguk pasti.
Retno merunduk lagi. "Kalau kamu benar-benar suka sama saya, saya pinta sama kamu, lupakanlah saya," ucapan Retno begitu mengagetkan saya.
"Kalau kamu nggak cuma sekadar bilang suka sama saya di mulut kamu, penuhi permintaan saya itu, Van. Buktikan kalau kamu memang benar-benar suka sama saya...."
"Retno, saya... saya nggak mengerti apa yang kamu bicarakan, No?"
"Berusahalah untuk mengerti walau kamu nggak mengerti, Van," kata Retno, matanya berkaca-kaca. "Karena... karena saya hidup nggak akan lama lagi! Saya sakit, Van. Saya nggak dapat menahan nyeri sakit kanker saya." Airmata Retno mengkristal.
Butiran itu jatuh di pipinya yang halus.
Ada isak yang tertahan.
Isak itu terdengar begitu giris menyayat kalbu.
"Retno...." Suara saya bergetar. "Kamu nggak pernah bilang sebelumnya, No!"
Retno merunduk. Gadis di hadapan saya ini tiba-tiba jadi begitu rapuh.
"Saya nggak ingin orang lain tahu selain keluarga saya, Van," kata Retno, setelah diam beberapa detik. Tangannya sibuk mengusap airmata yang menetes. "Penyakit itu sudah saya rasakan bertahun-tahun. Sekarang saya memberitahukannya ke kamu. Saya harap kamu mau mengerti tentang saya. Saya nggak ingin kematian saya meninggalkan beban di hati seseorang. Kalau kamu benar-benar menyukai saya, lupakan saya, Van. Anggap saya nggak pernah ada."
"Tapi, No... kematian hanya milik Tuhan. Kamu jangan sampai larut dengan penderitaan seperti ini. Saya... saya menyayangi kamu apa adanya, No."
Retno terdiam.
Airmatanya belum berhenti mengalir.
Saya jadi ikut larut dalam kesedihannya.
Ada airmata juga, di mata saya.
"Retno...."

***
Hening dan sepi sekali hati saya. Saya tak kuat dan tak tahan melihat gadis itu  melewati hari-harinya dengan kesedihan dan penderitaan akan penyakitnya. Ingin  rasanya saya selalu bersamanya, melewati hari-harinya yang katanya tidak lama lagi  itu—seperti yang ia katakan dua hari yang lalu saat hari ulangtahunnya. Tapi  kecelakaan sepeda motor saat saya pulang dari rumahnya, menghempaskan saya ke  sebuah alam yang begitu jauh dari alam gadis itu.
Retno di alam fana, sedangkan saya sudah di alam nan tak tersentuh.
Ah, maut, memang tidak pernah ada yang menduganya.
Gadis itu menangis. Entah apa yang disedihkannya. Dalam parau suaranya, saya mendengar nama saya disebut. Meskipun pelan, tapi saya amat jelas mendengarnya. Sudah dua hari ini, dalam kesendiriannya, nama saya selalu disebut-sebut. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Karena alam saya dengan alam Retno sudah berbeda.

Read More......

Cerpen: Masih Ada Hari Esok

Masih Ada Hari Esok
oleh: Karen Angela


Butuh satu jam untuk mengenal seseorang, satu hari untuk jatuh cinta, namun untuk melupakannya bisa jadi butuh seumur hidup.
Pagi belum lagi beranjak siang, namun langit di atas kota Jakarta kelabu tua. Mendung menyelimutinya. Hujan turun rintik-rintik. Air yang jatuh dari atas langit bagai jutaan jarum lembut. Membasahi genting, dedaunan, lalu mengalir sepanjang jalan menuju selokan.
Hari ini adalah hari keempat belas Astri berada di rumah sakit. Setelah dioperasi pada hari pertama dan beristirahat total selama hampir dua minggu, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Luka-luka di kakinya sudah mengering. Semua barang-barang Astri juga sudah dimasukkan ke mobil.
Gadis itu mencoba berdiri meski dengan bantuan tongkat.
"Pagi, Dok!" sapanya begitu melihat dokter yang ikut membantu perawatannya sedang berbicara dengan seorang suster di pintu kamar.
Dokter muda itu memandangnya sejenak, lalu membalas sapaannya.
"Sudah mau pulang?"
"Ya, Dokter. Sekalian saya mau pamit."
"Baiklah, Astri. Satu saja pesan saya, hidup harus berjalan terus. Kamu tetap kuat dan tabah ya? Selain berusaha menjaga kondisi badan, mulailah berlatih berjalan setahap demi setahap."
Astri mengangguk. "Terima kasih atas bantuannya, Dokter."
Lalu dibantu papa dan mamanya, gadis itu masuk ke dalam mobil. Semenit kemudian, mobil sedan yang membawanya telah melaju di jalan.
Astri beralih ke tepi jendela. Hujan masih menyisakan rintiknya. Dia teringat kembali tentang Kevin, cowok yang sangat dicintainya, yang dulu pernah menemaninya merenda hari. Sampai detik ini, Astri belum mampu melupakannya. Padahal cukup hitungan waktu untuk mengenang kehangatan dan cinta Kevin padanya. Kecelakaan mobil telah membawa cowok itu tidur lelap ditemani kedamaian. Sementara Astri terpuruk dalam kesendiriannya kini.
Memang, tak seorang pun dapat menduga kapan musibah itu datang. Semuanya terjadi begitu cepat. Astri sama sekali tak pernah menyangka, malam itu adalah malam terakhir dia bersama Kevin. Cowok itu mengajaknya dinner bareng seminggu menjelang keberangkatannya untuk melanjutkan sekolah ke negeri Paman Sam.
"Jika rentang waktu setahun ada 365 hari, maka berapa kali matahari terbenam yang akan kita lewatkan hingga kita bertemu lagi?"
"Aku nggak tahu, Vin." Astri menatap kosong. Dia bahkan belum menyentuh potongan steak -nya yang terhidang di meja.
"Suatu hari nanti, aku ingin kita bisa menikmati matahari terbit bersama-sama. Begitu terus setiap hari." Kevin menggenggam jemari Astri lembut. Mencoba memberi keyakinan pada gadis itu.
Tapi nyatanya, apa yang terjadi sungguh ironis.
Astri masih ingat betul, dalam perjalanan pulang Kevin membanting setir mobilnya ke kanan guna menghindari tabrakan dengan mobil depan yang ngerem mendadak. Namun bukannya terhindar dari maut, tiba-tiba malah muncul mobil dari arah sebaliknya menabrak mereka.
Mobil Kevin yang ringsek berat menjadi saksi bisu betapa kecelakaan itu demikian parah dan tak menyisakan ampun. Saat keduanya tak sadarkan diri di rumah sakit, cowok itu duluan menghembuskan napas terakhirnya. Astri beruntung masih selamat. Dia hanya menderita patah kaki ringan dan beberapa luka gores.


***

Satu tahun lebih berlalu....
Tak mudah memang bagi Astri menjalani hari dengan trauma yang masih membekas. Tak seorang pun juga begitu ambil pusing dengan sikapnya yang tertutup dan cenderung pendiam. Ya, kecuali Andhika.
Kring! Begitu bel kampus berbunyi, Astri bergegas meninggalkan ruangan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang karena begitu banyak yang harus dikerjakannya di rumah siang ini.
"Astri, tunggu! Aku mau ngomong."
Astri memperlambat langkahnya sambil menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak Dhika berlari-lari kecil ke arahnya. Sedikit terengah begitu berhasil menjejeri langkahnya.
"Aku nggak punya banyak waktu," Astri lantas memotong seraya membalikkan tubuhnya.
"Please, aku cuma pengen nanya. Boleh nggak aku ke rumah kamu malam minggu ini?" imbuh Dhika sambil tersenyum kikuk.
"Kenapa? Beberapa jam aja nggak lihat aku bikin kangen, ya?" tatapan mata Astri melunak.
"Jadi boleh ya aku main ke rumahmu?"
"Siapa yang bilang boleh?" Astri mendelik. "Aku sibuk!"
"Sibuk? Emangnya mulai punya bisnis apaan?"
Astri tertawa kecil. Andhika yang baik selalu mengingatkannya pada Kevin. Tubuhnya yang tinggi menjulang, kulitnya yang putih serta senyum baby face-nya seolah menjelma pada diri Dhika. Hanya saja....
Astri menarik napas dalam-dalam. "Pokoknya nggak boleh, kecuali...."
"Kecuali apa?"
"Kecuali kamu bisa mempertemukan aku dengan Kevin," tantang gadis itu.
Dhika terperangah. Permintaan itu terasa janggal. Gimana mungkin mempertemukan orang yang masih hidup dengan orang yang sudah nggak ada di dunia ini? Astri hanya mengada-ada.
Dan itu menjadi beban batinnya. Ternyata, menyadarkan seseorang yang terbelenggu cinta tak semudah yang dibayangkannya. Sayang dia keburu terbius oleh gadis itu. Sejak perkenalan pertama beberapa tahun silam, sebelum Astri akhirnya menjadi milik Kevin. Kalaupun saat itu dia memutuskan untuk mundur, itu semata karena Dhika yakin Kevin dapat membahagiakan gadis yang sedikit manja itu.
Perkiraannya tidak meleset. Semuanya berlangsung baik-baik saja. Sampai tiba-tiba kabar buruk itu diterima: Kevin meninggal akibat kecelakaan mobil.


***

Astri menggenggam sebuah boneka beruang kecil di tangannya. Hadiah dari Kevin di hari jadi mereka pacaran.
"Aku bakal ngasih kamu boneka beruang ini di setiap tahun hari jadi kita. Sampe meja belajar kamu penuh! Sebab aku ingin kita selalu bersama," kata Kevin suatu saat.
Astri mengenang hal itu dengan pahit. Hari ini seharusnya hari jadi mereka yang kedua, kalo Kevin masih hidup tentunya. Betapa Astri kangen dengan senyum, tawa, perhatian, bahkan omelan cowok itu saat dirinya lupa sarapan pagi. Sudah setahun pula Astri terus menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa Kevin. Andai saat itu dia nggak mengganggu konsentrasi Kevin menyetir dengan mengajaknya ngobrol. Andai dinner itu tak pernah ada. Ah, andai....
Sebuah ketukan di pintu membangunkan lamunannya.
"Astri, ada temanmu yang datang. Kalo nggak salah namanya Dhika."
"Eh... iya, Ma." Astri buru-buru menyusut airmatanya.
Ngapain lagi Dhika kemari? Bukannya dia sudah bilang nggak usah mampir?
Di ruang tamu, Astri melihat cowok itu sedang duduk terpekur menatap lantai. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat dirinya.
"Hai!" sapa Dhika spontan. Astri Cuma bisa diam mematung di ujung meja. Dhika kelihatan begitu lembut malam ini, dan dia begitu tampan dengan kemeja putihnya itu.
"Malam minggu nggak keluar?" tanya cowok itu lagi.
Astri menggeleng. "Mana ada yang pengen ngajak cewek kuper lagi berantakan kayak aku kencan di malam Minggu."
"Kamu serius? Aku mau!"
Astri tersenyum simpul. Cowok di hadapannya ini, tak putus-putusnya menghibur dirinya sejak kepergian Kevin. Astri tidak buta. Dia sadar perhatian Dhika selama ini.
"Tapi kamu belum mengabulkan permintaanku. Kamu belum mempertemukan aku dengan Kevin," Astri mengingatkan.
"Astri... kamu tahu sendiri kan hal itu nggak mungkin," sahut Dhika.
"Terserah."
"Sampe kapan kamu mau terus mengurung diri, As? Aku yakin Kevin juga nggak suka ngeliat kamu kayak gini," suara Dhika terdengar lembut tapi tegas.
"Kalo nggak suka, kamu boleh kok nggak peduli," jawab Astri dingin.
"Aku peduli, karena aku sayang sama kamu!" jawab Dhika gemas.
"Maafin aku, Dhika. Tapi Kevin tetap hidup di hatiku," jawab Astri setengah terbata.  Kevin, kamu di mana? Berilah aku suatu pertanda kalo kamu juga nggak pernah  ngelupain aku, bisiknya.
"Jangan berburuk sangka dulu. Aku nggak pernah minta kamu ngelupain Kevin, As.  Aku cuma pengen kamu membuka diri bagi orang-orang di sekitarmu. Kan kamu  sendiri yang bilang, kita harus menghargai waktu yang ada bersama orang-orang yang  kita sayangi. Dan aku menghargai waktu yang aku punya bersama kamu!"
Astri terpana mendengar ucapan Dhika. Ada rasa haru menyeruak di hatinya.
"Aku suka sama kamu sejak dulu, As. Sejak kita pertama kali kenalan. Aku pengen  kamu kembali ceria kayak dulu lagi," pinta Dhika sambil tersenyum manis.
"Thanks, Dhika. Tapi aku...."
Dhika mengeluarkan sesuatu yang disembunyikannya sejak tadi. Astaga! Sebuah boneka beruang kecil. Antara percaya dan tidak percaya, Astri menatap takjub saat tangan Dhika terulur padanya.
"Tadi sebelum ke sini, aku melihat boneka ini. Lalu aku berpikir untuk membelikannya untukmu karena setahuku kamu suka pernak-pernik beruang. Sebuah awal yang bagus bukan? Jadi di kamarmu nggak melulu koleksi barang dari Kevin." Lagi-lagi senyum tulus mengembang di wajah cowok itu.
Astri menerimanya dengan hati berdebar.


***

Angin malam menerpa ketika Astri membuka jendela kamarnya. Poninya tersibak. Antara suka dan lara bergayut di hatinya. Astri memandang boneka beruang kecil pemberian Dhika di tangannya, lalu menatap ke atas, menembus kelamnya langit di malam hari.
Astri tersenyum tipis. Dipejamkannya mata. Alangkah terasa kehadiran Kevin di sisinya. Entah kenapa kedamaian tiba-tiba menyelimutinya.
"Kevin," gumamnya lirih, "Aku nggak akan pernah melupakanmu meskipun kini sudah menerima uluran tangan Dhika untuk mengisi kekosongan hati ini, yang akan menemaniku melangkah di lembaran baru. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan di tempatmu yang sekarang."
Angin kembali berdesir. Astri membiarkan jendelanya tetap terbuka.
Sementara dari atas sana, betapa seseorang yang berpakaian seputih kapas itu tersenyum dan tampak melambai hangat kepadanya dari atas sana. Kevin....

Read More......

Cerpen: Rectoverso

Rectoverso
oleh: Dee

Sinopsis:

Dewi Lestari, yang bernama pena Dee, kali ini hadir dengan mahakarya unik dan pertama di Indonesia "Rectoverso" merupakan hibrida dari fiksi dan musik yang bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri tetapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan. Inilah cermin dari dua dunia Dewi Lestari yang ia ekspresikan dalam nafas kreativitas tunggal bertajuk "Rectoverso".

Lalu apa arti dari Rectoverso yang menjadi judul album sekaligus buku ini? Dee menjelaskan kata tersebut diambil dari bahasa latin yang artinya dua figur yang saling bercermin. Dengan cara bertutur yang puitis namun sederhana, menikmati Rectoverso seolah membaca kisah hidup kita sendiri, dan membuka jiwa, saat kita mulai membaca fiksinya, dan diakhiri dengan mendengar lagunya.

Buku ini berisi 11 kisah dan 11 lagu sebuah kombinasi angka yang cantik. Kesebelas cerpen dan lagu ini sengaja dibuat dengan judul yang sama. Dengar fiksinya.., Baca musiknya..



Read More......

Cerpen: Setelah Dua Puluh Tahun

Setelah Dua Puluh Tahun
oleh: Fiya Hentihu

Aku adalah anak tunggal di rumah. Bukan karena Bunda tak bisa punya anak lagi, tapi karena ayahku meninggal dua puluh tahun yang lalu. Saat itu umurku baru tiga tahun. Ayah seorang penerbang Angkatan Udara. Beliau terbang ke seluruh pelosok wilayah Indonesia dan sangat mencintai pekerjaannya. Terakhir kali Ayah terbang ke Papua dan itu memang penerbangannya yang terakhir. Dua minggu kemudian, dua perwira Angkatan Udara datang ke rumah dan mengatakan pesawat Ayah hilang. Sudah berhari-hari pegunungan Papua diteliti jengkal demi jengkal tempat diperkirakan jatuhnya pesawat. Tapi tak secuil pun ditemukan bangkai pesawat Ayah. Akhirnya oleh Angkatan Udara dinyatakan, Ayah dan dua rekannya meninggal meskipun tanpa makam.

Tak banyak yang aku ingat dari sosok ayahku. Yang kuingat hanya badannya yang tegap dengan seragam putih-putihnya. Bahkan suaranyapun aku sudah tak ingat lagi. Maklum waktu Ayah meninggal aku baru berumur tiga tahun. Setelah itu kehidupan kami berdua, aku dan Bunda, terus berjalan tanpa kehadiran seorang Ayah baru. Dan bayangannya semakin terbenam dalam pikiranku.

Sejak kecil aku paling senang dengan alam. Laut dan pegunungan tempat favoritku setelah kamar tidurku. Aku tahan berjam-jam berenang di laut di tengah ombak yang bergulung-gulung atau mendaki gunung sendirian, berarung jeram atau hanya sekedar jalan-jalan pagi yang tak pernah aku lewatkan kecuali kalau lagi kurang enak badan. Semuanya menyenangkan. Tapi Bunda selalu menghawatirkanku. Maklumlah karena memang hanya akulah satu-satunya harta yang paling berharga yang masih dia miliki. Tapi beliau selalu mengalah dan memahami hobiku yang menurutnya sangat berbahaya.

Beberapa bulan sebelum liburan, seorang kakak temanku menawarkan untuk mendaki gunung di Papua tepat saat liburan semester. Tidak terlalu tinggi tapi memang benar-benar masih perawan dengan hutan yang rapat dan jurang jurang.

Hampir tiap akhir pekan, aku dan teman-teman pergi ke gunung, menyusuri goa untuk pemanasan. Tapi untuk pergi kali ini aku merasa takut tanpa ijin bunda. Dan memang betul, dia tersentak kaget mendengar permintaanku.

“Yang berangkat sudah berpengalaman semua, Bunda,” kataku

“Tapi kamu kan belum tahu hutan Papua itu seperti apa Dani!” katanya.

Lalu disusul dengan kalimat kalimat lain yang serupa. Banyak yang hilanglah, tak sedikit yang matilah, tersesatlah, inilah, itulah. Aku tak mengomentarinya. Walau seperti yang sudah sudah, jadi juga aku pergi. Bunda mempercayaiku dan selama ini aku tak pernah membuatnya kecewa dan kesusahan dengan kegemaranku pada alam.

“Jangan lupa bawa hape kamu biar bisa tetap komunikasi dengan Bunda,” ceracaunya cemas.

“Ya… Bunda. Di sana mana ada sinyal? Kan hutan belantara.”

“Bunda nggak perduli. Pokoknya bawa! Atau kamu tak jadi berangkat!” ancamnya.

“Iya… iya.” Dengan terpaksa aku menuruti apa kata Bunda, meskipun aku tahu barang ini tak bakalan ada fungsinya di sana. ‘Yaa… sekedar menyenangkan hati Mama,’ batinku

Sebulan kemudian, aku dengan ketujuh orang lainnya, berangkat ke Papua. Kami menginap semalam di kampung terdekat titik awal pendakian. Kampung ini sangat kecil dan di ujung kampung menganga sebuah hutan yang lebat. Keesokan harinya kami memulai pendakian. Setengah jam mulai berjalan di dalam hutan, tumbuhannya semakin rapat. Jalan setapak tak kelihatan lagi. Dan inilah saatnya untuk kami membuka jalan baru. Medan sangat berat, tapi cuaca sangat bagus, tak ada hujan, peralatan serta bahan makan masih lengkap. Kami siap fisik dan mental. Tak ada sedikit pun perasaan cemas menggerayangi selama perjalanan ini.

Ketika hari mulai gelap, kami berhenti berjalan dan mulai membangun bivak. Kemiringan dataran lumayan besar. Tak ada tanah yang cukup datar untuk mendirikan tenda.

Malamnya aku susah sekali tidur padahal aku kecapekan. Selain Bisri dan Slamet yang sedang main kartu remi, yang lain sudah pada tidur pulas di kantong masing-masing. Alam di sekitar kami sunyi senyap. Suara binatang hutan bersahut sahutan di tengah kegelapan malam. Aku keluar dari kantongku, duduk dan mencabut rokok.

“Belum tidur, Dan?” Bisri menyapaku.

Aku menggeleng. “Nggak tahu kenapa, susah banget mau tidur.”

Kusulut rokok. “Sepi betul!” ujarku kemudian

Bisri tertawa. “Namanya juga hutan belantara, kalau rame ya pasar. Ikutan main yuk!” ajaknya.

Aku diam saja dan menggeleng. Lagi tak berselera dan duduk sedikit menjauh. Kunikmati sunyinya malam. Hanya terdengar desiran angin dan beberapa suara hewan malam. Langit begitu cerah dan terlihat bulan bersinar dengan terangnya. Beberapa saat kemudian aku tersentak kaget dengan suara keras yang menembus sunyinya malam.

Gubraaaakkk! Suara benda jatuh

Kupandangi Bisri dan Slamet.

“Suara apaan tuh?”

“Nggak tahu ya,” jawab Slamet.

“Sepertinya ada yang jatuh.”

Bisri mengibaskan tangannya tanda tak perduli.

“Ah paling anak kera jatuh dari pohon.”

Aku meraih senter dan berdiri. Slamet memanggilku, “Mau kemana Dan?”

“Mau cari anak kera.” Aku berjalan menjauhi bivak.

“Hey, Dani! Jangan jauh-jauh, belum ada jalan. Ntar nyasar loh!” suara Bisri mengiringiku.

Aku menyenter kesana kemari, terus berjalan. Sinarnya bermain di antara semak dan pepohonan. Ada beberapa binatang malam lari ketakutan karenanya. Langkahku semakin bertambah jauh. Anak kera yang kucari tak kutemukan juga. Mungkin sudah kabur dengan suara langkahku. Udara tambah semakin dingin. Aku memutuskan untuk kembali. Tapi, dari arah mana aku datang sudah tak kelihatan. Semuanya gelap sama sekali. Cahaya api unggun teman teman tak terlihat. Sudah semakin jauhkah aku berjalan? Aku berusaha untuk kembali berdasarkan naluriku. Belok sini, belok sana, lalu kesini. Tapi tak kutemukan juga bivak teman teman.

Aku berjalan dan terus berjalan. Tak kurasakan nyeri di tanganku tergores oleh duri dan semak semak. Tapi tetap saja tak kutemukan teman temanku. Aku mulai cemas setelah berjam jam aku berjalan. Akhirnya aku tertunduk lemas. Barulah aku sadar, sesuatu telah menimpaku. Aku tersesat di tengah dahsyatnya hutan Papua.

Keesokan harinya, saat matahari pagi muncul, aku terbangun dari tidurku yang bersandar batu. Kutenangkan diri dulu untuk berpikir langkah selanjutnya. Kemudian aku mencari pohon yang paling tinggi. Aku naik sampai puncak dan meneliti segala arah. Sedikitpun tak ada tempat yang aku kenali. Semua sama, daun daun, pepohonan dan pepohonan, semua hijau.

Aku harus ketemu dengan teman teman. Aku tak boleh menyerah hanya menunggu nasib di sini berharap segera teman teman menemukanku. Kukumpulkan semua semangatku untuk berjalan. Menerobos semak belukar. Menajamkan mata serta telinga. Tapi sampai hari gelap pun tak kutemukan juga teman temanku. Perut laparnya bukan main. Permen yang kubawa di kantongku sudah habis. Aku mulai mencari daun daun yang bisa kumakan untuk mengganjal perut. Aku sudah tak ingat senterku di mana. Mungkin terjatuh dan baterainyapun sudah habis.

Aku sudah capek berjalan. Ada sedikit tempat untuk aku bisa berbaring. Bulan diatas bersinar dengan terangnya. Ini bulan yang sama yang dilihat oleh kawan kawanku. Mereka pasti sudah mencariku. Saat seperti ini aku teringat Bunda. Bunda yang mengingatkanku sebelum berangkat dengan segala kecemasannya. Apakah aku bisa melihatnya lagi? Ah, aku yakin kawan kawan akan menemukanku. Bisri dan Slamet tahu ke arah mana aku pergi. Aku tak boleh menyerah. Pasti mereka akan menemukanku.

Tapi kenyataannya sudah tiga hari aku tetap tak menemukan tanda tanda kehidupan. Semangatku menipis drastis. Aku ingin menangis tapi kutahan. Lapar dan haus menerjang. Embun dan daun daunan tak dapat lagi mengatasinya. Aku tetap terus berjalan dan berjalan berharap segera menemukan sesuatu. Aku tak kuat lagi berjalan lebih dari sepuluh langkah. Langkah ke sebelas, aku berhenti dan duduk. Berjalan tiga langkah, berhenti lagi, berjalan lagi, berhenti, duduk, berjalan lagi, begitu terus.

Pada malam keempat, aku terperosok ke jurang yang tak begitu dalam. Badanku meluncur ke bawah. Tubuhku terhempas di semak semak dan aku merasakan sakit yang luar biasa di lengan kiriku. Terkilir atau patah aku tak tahu. Aku terbaring di dasar jurang menatap langit. Bulan bersinar dengan terangnya karena bulan purnama. Tapi di dasar jurang ini sangatlah gelap. Sebenarnya jurang ini tidak terlalu dalam. Seandainya tanganku tak sakit dengan sangat mudah aku dapat menaikinya. Tapi sekarang aku hanya bisa pasrah apapun yang terjadi. Seandainya aku harus mati di sini…

Dalam hati aku berucap doa, teringat akan Bunda dan merangkai semua kenangan indah tentang dirinya. Kalau seandainya aku mati di sini, apakah ada orang yang menemukan mayatku? Bagaimana kalau tidak? Akhirnya aku menangis sejadi jadinya. Segala macam kekalutan memenuhi benakku. Kemudian aku melemparkan pandangan ke bibir jurang.

Darahku tersirap!

Ada yang bergerak di bibir jurang. Apakah itu? Gerakan semak-semak yang semakin keras. Hewan ataukah manusia? Ataukah digerakkan oleh angin? Aku tak peduli, yang penting aku menemukan tanda tanda adanya kehidupan.

“Bisri… Slamet…” teriakku dengan sekuat tenaga.

“Aku terperosok ke jurang… Bisri…. Slamet… Mas Luki…” Aku terus menjerit.

Tiba tiba ada sesosok bayangan muncul di bibir jurang. Dengan cekatan merambat, menuruni jurang dan tiba di dasar. Dia berjalan ke arahku. Tubuhnya tegap. Bayangan sinar rembulan samar menerangi wajahnya. Orang ini bukan salah satu dari temanku, tapi siapa? Aku tak mengenalnya sama sekali.

“Maaf, anda siapa Pak?” tanyaku

Dia tak menjawab. Aku tak peduli. Aku sangat lega bertemu orang lain.

“Saya tersesat sudah empat hari. Kawan-kawan saya ada tujuh orang.”

Aku mencoba untuk duduk dan mengaduh ketika tanganku terasa sakit. Orang itu membuka slayernya dan membebat tangan kiriku. Aku merasa lebih baik walaupun tubuhku lemah sekali.

Dia membiarkanku duduk sejenak, kemudian digendongnya aku naik merambati jurang. Kami tiba di bibir jurang. Aku merasa lega sekali. Kemudian kami berjalan tanpa istirahat. Dia tak membawa senter tapi sinar bulan purnama sangat membantu kami. Tangannya yang kuat terus memapahku. Aku tak ingat, berapa kali aku pingsan. Kami terus berjalan dan tanpa berhenti, tanpa bicara sepatah kata pun.

Akhirnya setelah berjam-jam berjalan, aku melihat ada tanda tanda kehidupan. Aku melihat sinar. Ketika semakin dekat, aku beru sadar kalau itu adalah kampung terdekat dulu ketika aku dan teman temanku bermalam. Kampung? Air mataku meleleh. Tubuhku menjadi sangat lemas. Aku tak kuat lagi dan perlahan lahan merosot dari rangkulannya. Samar kurasakan jari jarinya yang dingin. Setelah itu aku tak ingat lagi dan pingsan.

***

Aku selamat. Tersesat setelah empat hari empat malam dan dapat kembali dengan selamat merupakan suatu keajaiban yang luar biasa. Ini hutan yang belum pernah dijamah manusia, bukan gunung tempat biasa anak muda camping. Teman-temanku sudah mengira aku mati. Mereka berusaha mencariku akhirnya menyerah tak berdaya melawan kedahsyatan alam. Dan pada malam keempat aku ditemukan tergeletak di ujung kampung.

“Aku nggak tahu Dani, apa memang kamu belum waktunya mati, di hutan lagi, atau karena ketajaman nalurimu sampai kamu bisa kembali ke sini. Kamu memang luar biasa, kamu pendaki sejati!” kata Mas Luki sambil mengacungkan jempolnya.

Aku menatapnya heran.

“Apa?” tanyaku. “Aku nggak sendirian. Siapa orang kampung yang menolongku?”

Gantian teman temanku menatap heran. Kuceritakan semua sampai aku bisa kembali ke kampung. Mereka menatapku tak percaya. Kutanya lagi siapa orang kampung yang menolongku, tapi mereka malang menganggapku bermimpi.

“Dan, kampung ini kecil sekali. Lima belas orang dari kampung ini membantu kami untuk mencari kamu dan tak satu orang pun menemukanmu. Apalagi membopongmu sampai kemari,” Mas Luki menjelaskan.

“Kamu tahu nggak, kita nggak ada yang berani mencari kami di atas jam enam sore. Karena di sini jam enam sore sudah gelap sekali. Jangan jangan malah dari kami ada yang tersesat lagi,” sambung Slamet.

Sungguh sangat tak bisa kupercaya. Aku teringat sesuatu. Ya, slayer yang digunakan orang itu untuk membebat lengan kiriku. Kutunjukkan slayer itu pada Mas Luki. Ketika aku melihat slayer itu, aku terkejut setengah mati. Darahku tersirap. Yang membungkus lenganku adalah slayer Angkatan Udara dan tertulis nama “Wiryawan Suratmadji”, nama almarhum ayahku.

Papaku meninggal dua puluh tahun yang lalu. Pesawatnya jatuh di Papua dan tak pernah ditemukan. Sungguh sangat susah dinalar tapi orang yang mengambilku dari jurang dan melintasi kampung adalah ayahku. Aku tak percaya tapi mau tak mau aku harus percaya karena aku mengalaminya sendiri. Ternyata setelah dua puluh tahun aku melihat ayahku kembali. Seminggu kemudian, hutan tempat aku tersesat diteliti kembali oleh Angkatan Udara. Tak berselang lama ditemukan bangkai pesawat Angkatan Udara yang hilang, letaknya tak jauh dari jurang tempat aku terperosok. Di dalam pesawat ditemukan tiga kerangka dan tengkorak manusia. Ayah dan kedua rekannya.

Read More......

Advertisement

Copyright © 2010 Dufan Blog's All rights reserved.
Wp Theme by Templatesnext . Blogger Template by Anshul